Re-internalisasi Nilai-nilai Islam melalui Teknologi Mobile

Nilai-nilai Islam tampaknya sudah mulai luntur dari masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Hal itu terlihat melalui observasi kebiasaan dan perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas pacaran yang dilakukan pemuda pemudi, hilangnya lantunan Al-Qur’an dari rumah-rumah, minimnya semangat mengikuti kajian, berkurangnya jamaah sholat di masjid-masjid, hingga yang paling sederhana, kealpaan membaca do’a sebelum makan atau aktivitas harian lainnya.

Lunturnya nilai-nilai Islam dari masyarakat memerlukan penyikapan segera dari para aktivis dakwah, terutama kaum intelektual muda muslim. Diperlukan langkah-langkah strategis dan membumi yang menyentuh semua kalangan masyarakat. Strategis, artinya langkah yang diterapkan disesuaikan dengan kebutuhan saat ini dan melihat tantangan di masa yang akan datang. Sementara membumi dimaksudkan agar masyarakat bisa benar-benar merasakan implementasi dari gagasan re-internalisasi nilai-nilai Islam tersebut.

Tentu, tidak mungkin re-internalisasi nilai-nilai Islam ini akan terealisasi jika hanya dilakukan oleh para dai yang bergerak di lapangan, seperti ustaz di masjid-masjid atau kajian-kajia. Dibutuhkan sebuah gagasan kreatif sebagai katalisator untuk menyebarkan kebaikan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Katalisator tersebut dapat diwakilkan oleh teknologi mobile yang saat ini sedang menjadi tren di berbagai kalangan masyarakat.

Berkembanganya teknologi mobile yang semakin cepat membuat perangkat-perangkat mobile semakin meresap ke dalam manusianya (pervasive). Sekarang, mobile device hingga smartphone menjadi perangkat yang paling dekat dengan individu. Masyarakat tidak pernah sadar membawa mobiledevice setiap harinya. Saat mobiledevice mereka hilang, justru baru dirasakan keberadaannya. Boleh jadi di era seperti sekarang, sudah tidak ada kantong lagi tanpa perangkat mobile. Sayangnya, mayoritas pengguna mobile dianggap belum bisa memanfaatkan perangkat mobile yang mereka miliki dengan bijak. Ada yang berjam-jam asyik melakukan chatting, browsing tanpa arti, bermain game, bakan ada yang sekadar scrolling jauh ke bawah membaca “kicauan” teman-temannya.

Kaum intelektual muda Islam bisa belajar dari apa yang dilakukan komunitas Badr-Interactive, sebuah komunitas kreatif pencipta aplikasi mobile yang bevisikan dakwah. Badr interactive membuat aplikasi-aplikasi mobile gratis yang bernuansakan Islam. Salah satu aplikasinya adalah “Quran Badr” yang dilengkapi terjemahan dan tafsir Alquran sehingga masyarakat mudah mengakses pedoman hidup mereka di mana saja. Ada juga “Ramadan Guide” sebagai panduan amal untuk bulan ramadan. Selain itu, disajikan pula “Ustaz Badr” untuk masyarakat yang haus tausiyah, dan “Doa dalam Quran” sebagai rujukan doa yang tercantum dalam Al-Qur’an. Aplikasi terbaru mereka yang sempat dilirik media nasional adalah “UrbanQurban” yaitu aplikasi yang memudahkan masyarakat beramal qurban hanya dengan satu-dua kali klik melalui smartphone mereka.

030405

Aplikasi-aplikasi yang dikembangkan Badr-Interactive

Pengembangan gagasan internalisasi nilai-nilai Islam melalui teknologi mobile ini bisa dilakukan dengan lima strategi: penelitian, perencanaan, pengembangan konten, branding, dan integrasi. Tahap penelitian menjadi acuan mendasar untuk bisa membuat teknologi mobile yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, sehingga apa yang nanti diciptakan bukan hasil imajinasi monoton semata. Dari hasil penelitian, selanjutnya dilakukan perencanaan terkait implementasi teknologi yang akan dibuat, tentunya teknologi yang mengandung nilai-nilai Islam.

Pengembangan konten meniktikberatkan pada isi atau nilai Islam apa yang ingin disampaikan kepada masyarakat, bisa dalam bentuk aplikasi, game edukasi, komik, video, atau jenis media konten yang lain. Pemasaran dan branding menjadi bagian penting juga karena teknologi yang dibuatharus dikenal lebih dulu oleh masyarakat sehingga masyarakat tahu dan lama-lama menjadi butuh. Terakhir, integrasi, teknologi mobile yang kita buat saling terkait dengan sistem sosial kemasyarakatan yang sudah ada di dunia nyata.

 

Oleh : Faiq Miftakhul Falakh – Fasilkom UI

Sumber gambar : http://badr-interactive.com/official/

Didukung oleh : Fuki Fair 3 – Potensi IT dalam Islam

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s