Mengenal Sejarah Kubah Masjid

02

Masjid memiliki peran vital dalam perkembangan agama Islam pada zaman Rasulullah SAW , mulai dari tempat ibadah, pusat penyebaran agama, pusat syiar Islam, pusat pemerintahan, dan pusat merumuskan strategi perang. Namun siapapun yang mengetahui bangunan masjid tentu akan menyadari bahwa masjid adalah bangunan dengan kubah diatasnya, pertanyaannya adalah sejak kapan dan mengapa kubah itu ada di bangunan masjid?

Masjid pada awalnya tidak memiliki kubah, masjid Nabawi-pun hanyalah bangunan segiempat beratapkan daun kurma sehingga terlihat sangat sederhana, ternyata kubah memang bukan berasal dan berakar dari arsitektur Islam, hal ini diperkuat oleh pernyataan arsitek terkemuka, Prof K. Cresswell dalam Early Muslim Architecture yang menyebutkan bahwa pada desain awal masjid di Madinah sama sekali belum mengenal kubah.

Apabila menelisik lebih jauh sejarah kubah, ternyata kubah sudah dikenal manusia sejak 6000 tahun yang lalu oleh bangsa Mesopotamia, namun penggunaan kubah baru berkembang pesat di periode awal masa Kristen.

Melihat kemegahan gedung-gedung Kristen dan romawi yang menggunakan kubah, maka tergugahlah para khalifah untuk membangun masjid dengan kubah yang megah. Saat khalifah Abdul Malik (685-688) berkuasa, dibangunlah Dome of the Rock yang lebih dikenal sebagai masjid Umar di Yerusalem.

Gaya dan bentuk kubah semakin bervariasi ketika Islam berinteraksi dengan kebudayaan-kebudayaan lain, maka tidak heran ketika kita mengunjungi masjid di negara lain maka menemui bentuk kubah yang khas karena arsitek-arsitek muslim tidak segan untuk mengakulturasi gaya arsitektur masyarakat setempat seperti di wilayah Afrika utara seperti Maroko dan Tunisia, bentuk kubah masjidnya berbentuk bulat rendah. Sedangkan di mesir kubahnya berbentuk setengah oval, silinder (ustuwani) serta kerucut (makhrut). Di Indonesia bentuk kubah masjid juga beragam, ada yang berbentuk bulat, ada yang berbentuk joglo seperti masjid-masjid di Jawa, ada pula masjid berbentuk tanduk kerbau di Sumatera barat, bahkan ada kubah yang dilapisi emas 24 karat seperti di Masjid Dian Al-Mahri.

Menurut pakar arsitektur bangunan, Jeffery O Hill, bangunan yang memiliki kubah diatasnya lebih baik dalam sirkulasi udaranya, hal ini mungkin yang menyebabkan sebagian besar masjid berhawa sejuk.

Lambing bulan sabit diatas kubah masjid juga mengandung nilai sejarah, yaitu ketika Muhammad Al Fatih mengambil alih kota Konstantinopel dari kekaisaran Bizantium. Yaitu ketika Muhammad Al Fatih mengonversi tempat ibadah yang ada, dengan menambahkan ornament bulan sabit (yang merupakan lambang kekhalifahan Turki Utsmani) di kubahnya sebagai penanda bahwa tempat ibadah tersebut telah dikuasai oleh umat islam dan beralihfungsi menjadi sebuah masjid.

Oleh : Ahmad Noor Yuhdi – FKM UI

Didukung oleh : Fuki Fair 3 – Potensi IT dalam Islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s